Idealisme Politik Salah Kaprah

Salah Kaprah Idealisme Politik Golput, Populer Pada Masa Orde Baru

Gerakan golput dicetuskan untuk menyatakan protes terhadap Pemilu masa orde baru yang penuh rekayasa. Saat itu, Pemilu hanya menjadi rutinitas dalam demokrasi. Pemenang dan siapa presidennya sudah bisa diprediksi bahkan sebelum Pemilu dimulai. Kekuatan mesin birokrasi orde baru hanya menjadikan Pemilu sebagai mekanisme untuk mendapatkan legitimasi dari rakyat untuk terus berkuasa.  Karena itulah para aktivis sosial pada waktu itu kemudian menyatakan perlawanan damai dengan tidak ikut memilih dalam Pemilu, atau mereka sebut dengan istilah golongan putih (golput).

Pasca reformasi, kran demokrasi kian terbuka luas. Sistem pemilu kita sudah menggunakan sistem proporsional terbuka. Dimana masyarakat dapat menentukan langsung Caleg mana yang akan dia pilih menuju kursi parlemen. Tapi kenapa pada masa demokrasi terbuka ini, angka golput masih juga belum berkurang?

Banyak alasan kenapa seseorang akhirnya memilih golput. Namun kali ini saya ingin menilik alasan mereka yang golput karena idealisme dan klaim rasional. Jenis golongan putih seperti ini, biasanya dilakukan mereka berpendidikan, yang menganggap dunia politik itu adalah dunia kotor dan haram. Pemahaman atas realitas politik di Indonesia, menjadikan mereka bersikap seperti itu, tanpa melihat lebih dalam lagi substansi untuk apa Pemilu dilakukan.

Golput atau idealisme politik yang salah kaprah jelas bukanlah solusi untuk perbaikan kondisi bangsa dan negara saat ini.  Karena setelah kita golput, apa yang terjadi? Apa dampak protes tersebut bagi politik dan pemerintahan kedepan? Golput hanya menyebabkan banyaknya kertas suara yang tak terpakai, yang dampaknya justru dapat memunculkan potensi kecurangan dalam Pemilu.

Makna protesnya sendiri hanya terlihat pada persentase pemilih usai pemilu, dan langsung menguap ketika hasil Pemilu disahkan.  Pemerintahan terus berlanjut, ada atau tidaknya suara golput. Hasil pemilu itu kemudian menghasilkan wakil-wakil  pilihan mereka yang menggunakan hak suara. Maka anggota dewan yang duduk di kursi legislatif selama lima tahun ke depan, adalah representasi dari warga yang memilih mereka, baik atau buruknya. Sementara suara golput tidak memiliki representasi dan ikatan apa-apa dengan anggota dewan yang duduk di parlemen.

Maka dari itu apabila anggota dewan yang terpilih adalah mereka yang rekam jejaknya buruk atau integritasnya rendah, mereka yang golput tidak dapat menyalahkan siapa-siapa. Karena anggota dewan tersebut terpilih melalui mekanisme Undang Undang Pemilu yang sah.

Inilah kerugian yang jarang sekali dipahami mereka yang sengaja golput dengan alasan-alasan idealisme. Tidak ada pencapaian positif  sama sekali yang didapat dengan golput yang mereka lakukan. Sebaliknya, karena golput itu, Pemilu  memiliki kualitas yang rendah dan hanya melahirkan anggota-anggota dewan yang sebenarnya sama sekali tidak kapabel dibidangnya. Seandainya mereka yang mengaku rasional tersebut menggunakan hak suaranya untuk memilih caleg-caleg yang bersih dan kapabel, tentunya suara mereka lebih berguna untuk perubahan bangsa yang lebih baik.

Untuk kamu yang memilih jalur golongan putih, artikel ini layak dibaca Golput Itu Ridiculous Reluctance, sikap yang sangat naif.
Jangan Golput
Baghdad Sikumbang