Menimbang Karakter Ideal Capres Cawapres

PEMILIHAN Presiden 2014 akan menjadi peristiwa penting bagi bangsa Indonesia. Melalui pilpres yang pemungutan suaranya akan berlangsung pada 9 Juli mendatang, nasib ratusan juta rakyat Indonesia dipertaruhkan. Sebab melalui proses demokrasi inilah Indonesia akan memiliki pemimpin baru, pasangan presiden dan wakil presiden baru yang akan membawa perubahan nasib bangsa dalam lima tahun ke depan.

Sejumlah nama calon presiden sudah muncul ke permukaan. Sejumlah survei menjagokan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang diajukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, partai yang menang Pemilu Legislatif 2014 berdasarkan hasil hitung cepat. Nama lain yang diperkirakan akan bertarung di pilpres adalah Ketua Umum Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto.

Selain nama capres, beredar juga nama cawapres yang diprediksi bakal muncul. Nama itu di antaranya adalah Ketua Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, Ketua Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa, eks Wapres Jusuf Kalla, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, eks Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Pramono Edhie Wibowo, eks Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D., hingga pedangdut Rhoma Irama. Masih banyak nama lain yang bisa jadi muncul secara tiba-tiba.

Menurut agenda Komisi Pemilihan Umum, pendaftaran pasangan capres-cawapres berlangsung pada 10-16 Mei mendatang. Ini berarti tinggal dalam waktu hitungan hari sebelum partai politik mengajukan nama pasangan. Meskipun nantinya partai politik yang akan menentukan nama, tak ada salahnya jika kita berharap hadirnya pasangan ideal.

Tentu saja definisi ideal berarti capres dan cawapres yang akan diajukan nantinya punya karakter yang saling mengisi, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tanpa harus menyebut nama, mungkin kita bisa menimbang seperti apa karakter yang ideal.

Pasangan yang sering dianggap ideal adalah kombinasi sipil dengan militer. Anggapan ini tidak selamanya benar. Jika sipil identik dengan prinsip menerima demokrasi bukan sebagai instruksi yang harus dijalankan tanpa bantahan, ada banyak figur militer yang demokratis. Jika militer identik dengan karakter yang tegas dalam membuat keputusan, ternyata ada juga figur militer yang lambat dalam membuat keputusan.

Latar belakang memang penting, namun memadukan karakter kepemimpinan jelas lebih penting. Jika seorang capres yang dimajukan adalah orang yang belum punya pengalaman duduk di pemerintahan pusat, tentu cawapres yang ideal adalah yang punya pengalaman. Jadi jika terpilih, presiden bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan bermacam hal baru berkat 'bimbingan' wapres.

'Bimbingan' ini berlaku dari hal kecil seperti protokol kenegaraan, kesekretariatan, hingga akses birokrasi. Tentu saja pengalaman itu akan dibutuhkan untuk mengurus hal yang lebih besar, seperti mencari orang yang tepat untuk mengisi kabinet atau akses diplomasi di tingkat internasional.

Kemudian jika capres yang dimajukan merupakan figur yang dikenal memiliki watak tegas dan keras, tentunya akan membutuhkan cawapres dengan karakter yang lembut, penuh kesantunan, dan penuh kehati-hatian. Kombinasi ini tentunya diharapkan agar pemerintahan tidak dijalankan secara tiran. Pemerintah baru nantinya sangat diharapkan bisa menjaga hak asasi manusia, melindungi minoritas, dan memelihara demokrasi.

Selain itu jalannya pemerintahan diharapkan akan seimbang. Seperti mobil, kombinasi ini akan memiliki gas dan rem yang akan saling menjaga. Jika pemerintahan berjalan terlalu lambat, maka akan ada sosok yang menginjak gas untuk meningkatkan kecepatan. Sebaliknya, jika pemerintahan dirasakan terlalu cepat bahkan cenderung gegabah, akan ada orang yang berperan untuk menginjak rem.

Kita sebagai pemilih seharusnya memang mengenali karakter keduanya, tak hanya capres tapi juga cawapres. Dengan memahami watak dan karakter keduanya, setidaknya kita bisa membayangkan seperti apa berjalannya pemerintahan dalam lima tahun ke depan.

Nasib bangsa memang berada di tangan kita. Karena itu Pilpres 2014 ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan perubahan Indonesia di masa depan. Selamat mengenali karakter calon pemimpin sebelum memilih.

Iwan Fals
"Dengarlah suara bening dalam hatimu, biarlah nuranimu berbicara". Iwan Fals