Mendambakan Pemimpin Yang Merakyat

Coba anda baca berita ini, saya tersenyum setelah membuka tautan yang dikirim seorang teman itu. Berita itu menceritakan bagaimana dua orang tukang becak di Pamekasan, Jawa Timur, berkelahi  karena ejek-ejekan soal calon presiden yang mereka dukung di Pilpres.


Awalnya saya menilai kejadian itu sungguh menggelikan. Karena mungkin masih akan jauh lebih masuk akal kalau misalnya emosi mereka terpancing karena persoalan lain, seperti berebut penumpang. Apalagi dengan profesi tukang becak, saya yakin masih banyak persoalan hidup lainnya yang lebih penting diperjuangkan mereka ketimbang berkelahi karena tidak terima capres jagoannya dihina.

Tapi apakah benar  persoalan itu menggelikan? Atau memang kemarahan tukang becak itu sangat wajar, karena mereka sebenarnya sudah sangat pasrah terhadap kondisi mereka, dan berharap presiden yang terpilih dalam Pilpres nantilah yang bisa memperhatikan kondisi mereka.  Sosok presiden yang merakyat, dan bisa benar-benar menjadi pemimpin bagi rakyat seperti mereka. Jangan lagi presiden yang mendahulukan kepentingan elit parpol pendukungnya, ketimbang rakyatnya yang miskin.

Padahal jumlah rakyat miskin di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, akhir 2013 jumlah rakyat miskin di Indonesia sudah mencapai 28,55 juta orang.  Bertambah hampir 500 ribu orang dari data Maret di tahun yang sama. Dan rakyat miskin terbanyak di Indonesia berada di Pulau Jawa, mencapai 15,55 juta orang.

Sementara menurut data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Republik Indonesia menyebutkan selama tiga tahun terakhir, koesien gini di Indonesia meningkat dari 0,37 menjadi 0,41. Semakin tinggi kooefisen gini berarti semakin lebar juga kesenjangan sosial antara orang kaya dan orang miskin. Artinya di Indonesia saat ini, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Masih menurut data TNP2K, bagian pendapatan dari 20 persen terkaya meningkat dari 41.2 persen  pada 2009 menjadi 48.6 persen di  2012. Sementara bagian  pendapatan  dari  40 persen termiskin turun dari 21.2 persen menjadi hanya 16.9 persen.  Dan persoalan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin ini belum selesai hingga tahun lalu.

Kondisi ini tetap tidak akan teratasi jika Indonesia tidak dipimpin presiden yang paham bahwa rakyatnya masih banyak yang hidup dalam kondisi prihatin. Masih banyak rakyatnya yang bahkan hak-hak dasar seperti pendidikan dan kesehatan masih belum mampu dipenuhi negara.

Karena itu, saya sadar pentingnya dalam Pilpres nanti untuk memilih calon presiden yang sensitif terhadap berbagai persoalan kemiskinan di Indonesia. Saya yakin, Jokowi-Jusuf Kalla pasangan calon yang paling merakyat, dan paham persoalan rakyat. Kekaguman saya terhadap Jokowi yang tetap tampil sederhana meskipun sudah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Penampilannya yang jauh dari kesan glamour, sangat berbeda dengan penampilan elit politik lainnya, benar-benar menunjukkan kondisi rakyat Indonesia saat ini. Tentang tokoh ini dapat anda baca pada posting, siapa Jokowi menurt Fadli Zon dan dimata rakyat yang merindukan perubahan, untuk Indonesia yang lebih baik.

Pemimpin

Politisi juga tidak memiliki waktu luang, karena mereka selalu bertujuan pada sesuatu diluar kehidupan politik itu sendiri. Kekuatan dan kemuliaan atau kebahagiaan"Aristotle