Swing Voter Kampanye Hitam dan Menjadi Pemilih Cerdas

Pesta Demokrasi Pemilihan Presiden 2014 sudah di depan mata. Diperkirakan angka pemilik suara yang akan bersikap golput sekitar 30%-30%. Suatu prosentasi yang sangat fantastis. Jika kita menarik kebelakang. Angka golput dari masa ke masa mengalami peningkatan dalam setiap pemilihan presiden. Pilpres 2004 angka golput 21,5%, Pilpres 2009 naik menjadi 23,3%. Jumlah prosentase tersebut menggambarkan bahwa banyak masyarakat yang masih bersikap apatis terhadap calon pemimpinnya.

SWING VOTER
Untuk Pemilihan Presiden tahun ini,  ada sekitar 41,83 persen pemilih yang belum menentukan pilihannya di pilpres Juli nanti atau yang biasa disebut "swing voter". Pemilih swing voter umumnya cenderung  memiliki perilaku masih berubah-ubah menentukan pilihan capresnya atau ragu-ragu dalam mengambil keputusan politiknya. Tentu saja angka 41,83 persen swing voter tersebut merupakan potensi besar bagi kedua capres dan dijadikan sasaran empuk untuk menambah pundi-pundi suara dalam pilpres nantinya.

Menyadari hal tersebut, masing-masing  timses capres dan para pendukung memanfaatkan sisa masa kampanye yang hanya tinggal hitungan hari. Mereka bekerja dan berlomba-lomba mencuri perhatian swing voter. Tak tanggung-tanggung, kedua kubu mengerahkan banyak relawan di hampir seluruh penjuru nusantara untuk mensosialisasikan capres yang diusung.

Para relawan atau pendukungnya diibaratkan bekerja bak 'sales promotion girl/boy'dalam memasarkan "produk" agar laku dijual kepada para pemilih. Mereka bekerja secara sporadis  melalui media online dan jejaring sosial. Dan mudah ditebak, jargon-jargon yang ditawarkan adalah capres merekalah yang terbaik dari yang lain.

ABAIKAN KAMPANYE HITAM DAN KOTOR
Namun sangat disayangkan bahwa usaha para pendukung untuk menarik perhatian pemilih, tak jarang dengan cara-cara merusak. Berbagai kampanye hitam dilakukan. Satu pihak menyerang pihak lain. Media mainstream yang notabene pemilik atau pendukung salah satu capres juga ambil bagian dalam pemberitaan yang tidak berimbang. Hal-hal yang tabu menurut kode etik jurnalistik diabaikan begitu saja. Semua demi kepentingan pemenangan capres yang didukung.

Kampanye hitam lebih banyak dilakukan oleh para pendukung fanatiknya di akar rumput daripada capres itu sendiri. Pendukung fanatik akar rumput umumnya perang kata-kata di media sosial. Selain kampanye hitam di akar rumput, ada juga kelompok atau perorangan yang memang dibayar untuk melakukan kampanye hitam. Salah satu contoh adalah kasus kampanye hitam tabloid Obor Rakyat pada kampanye pemilu 2014.  Mereka akan membentuk opini di publik melalui tulisan yang di sebarkan melalui media elektronik maupun cetak.

Untuk menentukan apakah suatu isu atau informasi yang disebarkan merupakan kampanye hitam atau tidak, dapat dilihat dari  ciri-ciri berikut:

a. Tujuannya menyerang dan menyudutkan pihak lawan politik
b. Informasi atau berita yang disajikan tidak valid kebenarannya dan hanya diklaim sepihak.
c. Merupakan sarkasme berupa hujatan, caci maki, cemohan dan ejekan kasar.
d. Lebih mendekati fitnah daripada fakta
e. Berupa tuduhan negatif tanpa memiliki bukti-bukti konkrit.
f. Berupa opini berisi persepsi semata dan sifatnya fiksi.
g. Informasi disebarkan secara massif dan berulang-ulang untuk
h. Menilai pihak lawan terlalu subjektif, tidak relevan dan menyesatkan

MARI MENJADI PEMILIH YANG CERDAS
Kata cerdas di sini bukan dimaksudkan harus memiliki nilai hasil tes IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi, tapi "cerdas" di sini lebih menurut kodrati kita sebagai manusia. Karena dalam ajaran agama -agama  Samawi disebutkan manusia adalah makhluk cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik.. Sama halnya  secara biologis manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens.

Nah sebagai manusia cerdas dalam hubungannya dengan pemilihan presiden Republik Indonesia,  kita harus bisa menggunakan akal dalam menilai kepatutan dan kepantasan seorang capres yang akan kita pilih dalam memimpin negeri tercinta ini.

Kini kita dihadapkan kepada dua pasangan calon pemimpin. Tentu kita akan memilih berdasarkan kemampuan kita berpikir  dan dituntun oleh hati nurani. Memang ada kalanya kita dalam posisi sulit jika dihadapkan pada hanya dua pilihan. Bagaimanapun Jokowi dan Prabowo adalah putra anak bangsa terbaik yang akan bersaing dalam pemilu pilpres tahun ini.

Telah banyak tulisan di berbagai media yang mengulas cara menentukan pilihan presiden, disini penulis juga akan memberikan beberapa pertimbangan sebelum menentukan pilihan  yang dikemas dalam bentuk pertanyaan dan petunjuk (clue) dari perspektif positif  kedua capres dengan catatan mengeyampingkan kampanye hitam yang berlangsung saat ini.

1. Siapa sih dia (capres) yang dulu?
Jawaban atas pertanyaan ini mengacu pada nilai "histori" dan rekam jejak  secara individu masing-masing capres.  Mengapa? Ibarat memilih pasangan hidup, dalam falsafah Jawa harus melihat "Bibit-Bebet-Bobot".  Kita harus meneliti masa lalu calon yang akan kita pilih. Kita jangan sampai memilih kucing dalam sarung. Jangan sampai disangka kucing yang dibeli namun ketika sarung dibuka, singa atau tikus yang melompat.

2. Apa karya nyata yang sudah pernah dilakukan untuk negeri ini?
Pentunjuk atas pertanyaan ini adalah hal-hal apa yang baik telah dilakukan semasa masing-masing menduduki jabatan publik ataupun jabatan non publik. Sejauh mana masyarakat merasakan karya-karya mereka selama ini. Ini akan menjadi tolak ukur kemampuan mereka jika menduduki kekuasaan.

3. Apa saja pencapaian atau prestasi (achievement) yang telah didapat di tingkat lokal, nasional dan internasional?
Bagaimanapun salah satu parameter keberhasilan seseorang bisa diukur dari berapa banyak pencapaian  individu atau kelembagaan yang didapat dari lembaga-lembaga independen, pemerintah ataupun organisasi nasional dan internasional. Karena pencapaian tersebut adalah bentuk pengakuan atas karya nyata dan kerja keras mereka dalam mengabdi kepada masyarakat dan negara.

4.  Siapa dia yang sekarang?
Setelah mengetahui "siapa dia yang dulu" kita juga harus bisa menjawab dan menilai "siapa dia sekarang". Secara penilaian subjektif kita dapat menilai dari informasi kekinian mengenai personal capres tersebut. Bagaimana sikap berbicara, bagaimana dia menvisualisasikan diri di depan umum. Karena sikap dan perilaku sekarang bisa menjadi gambaran bagi kita bagaimana sikap dan tindakan capres tersebut seandainya dia berkuasa lima tahun ke depan.
5. Dengan siapa dia berteman (berkoalisi)?

Pernah dengar kata-kata bijak seperti :"lingkunganmu (komunitas) ikut membentuk karaktermu atau  Siapa kita, bisa dinilai dari siapa yang berteman dengan kita.”?  Ini mungkin agak berlebihan, namun sering terjadi dalam politik praktis. Bukankah sering kita dengar, politik itu kotor atau politik itu bertindak sesuai dengan kepentingan. Rasanya hal ini ada relevansinya dengan pilpres. Kita bisa menilai format koalisi yang diusung. Bagaimana koalisi tersebut bersepakat. Apakah  betul koalisi dibentuk untuk mewujudkan cita-cita bangsa atau hanya ingin mendapatkan kekuasaan. Karena bagaimanapun partai koalisi juga ikut berkuasa di pemerintahan jika memenangkan pilpres. Karena koalis dibentuk sesuai dengan kontrak politik yang mengikat dimana isi kontrak mengakomodir keinginan dan kepentingan setiap partai.

6. Apa flatform politiknya?
Contoh Flatform Politik  yang diusung adalah agama, nasionalisme, pembelaan terhadap rakyat kecil, upaya menggapai kesejahteraan dan memerangi kemiskinan, dsb. Anda bisa memilih flatform sesuai dengan selera dan minat politik anda. Namun dengan adanya koalisi antar berbagai flatform kadang menjadi kendala presiden dalam menjalankan roda pemerintahan. Hal ini terjadi karena masing-masing partai akan terkesan mendahulukan kepentingan partai masing-masing. Pemerintahan SBY selama dua periode mengalami hal yang sama.

7. Apa Visi dan Misinya?
Menurut penulis Visi dan Misi itu bukanlah hal yang paling penting dalam menilai capres. Karena Visi dan Misi yang diusung biasanya akan banyak melenceng ketika sudah berkuasa. Kedua capres pasti menyampaikan Visi dan Misi yang sebaik-baiknya secara tertulis. Kadang misi dan misi terlalu diumbar secara berlebihan sehingga kesannya tidak logis dan realistis. Walaupun demikian, ada baiknya mengukur Visi dan Misi mereka apakah masuk akal atau tidak dan sesuai dengan kondisi kekinian.

Untuk mendapatkan jawaban detail atas pertanyaan-pertanyaan di atas, kita dituntut untuk menggunakan kemampuan akal dan pola pikir yang baik dan harus bisa  memilah-milah setiap isu, informasi dan pemberitaan yang disampaikan oleh media massa atau media sosial saat ini. Karena dengan kelihaian cara menulis dan menyampaikan argumen, mereka dapat mengemas berbagai isu dalam bahasa yang halus dan  diksi  sehingga tampak sebagai sebuah kebenaran.

Dengan adanay tulisan ini diharapkan pemilih menjadi lebih cerdas dalam menentukan pilihan politiknya, tidak mudah terjebak dalam sebuah kampanye hitam maupun putih, demikian juga kampanye positif maupun negatif.

Gunakan hak suara anda, jangan golput..

Selamat Memilih!

Salam tabik erat jabat tangan dari penulis.
Saut Donatus
Parjalpis, Siantarcity

Visi Misi Jokowi - Jusuf Kalla

"Yang lebih baik dari seribu omong kosong adalah satu kata yang membawa damai" - Buddha