Dia Kembali Perih Dalam Dirinya | Herry Tjahjono

Veronica
Setidaknya dua kali Veronica Tan menangis untuk suaminya.

Pertama, ketika Ahok menjawab akan kawin lagi seandainya Vero meninggal lebih dulu.

Kedua, ketika Vero membacakan surat Ahok untuk membatalkan pengajuan bandingnya.

Jika Ahok sudah "mewakafkan" dirinya untuk bangsa dan negaranya, maka Veronica Tan telah "mewakafkan" dirinya untuk suaminya. Maka secara tak langsung, Vero juga "mewakafkan" dirinya untuk bangsa dan negaranya.

Namun begitulah negeri yang sakit ini, dengan dinginnya menggoreskan sembilu pada hati perempuan yang baik dan mulia itu. Mungkin saat ini Ahok tak lagi merintih untuk dirinya sendiri. Bukankah dia sudah bisa menerima dan mengampuni ?

Namun lelaki sekuat apapun, seikhlas apapun - batinnya tetap akan merintih perih tatkala melihat istrinya menangis pedih membacakan surat penarikan pengajuan bandingnya kemarin.

Dan sebagai suami dia tahu pasti apa saja yang membuat istrinya menangis - bukan hanya soal ketidakadilan yang menimpanya. Bukan hanya itu, tapi juga kerinduannya untuk duduk bersama ketiga anak mereka yang manis dan menyenangkan. Mendaraskan doa-doa suci bersama kepada-Nya di langit tinggi. Tertawa bersama, lalu menutup hari bersama pula.

Kini kebersamaan yang biasanya indah itu telah direnggut. Namun di balik keperihan hatinya melihat tangis sang istri -  ia tetap bangga dengan istrinya. Perempuan yang dicintainya itu  tetap berdiri tegar merangkul dan memayungi anak mereka melewati hari-hari. Dia tahu pasti istrinya hanya menunggu satu hal dalam sisa hidupnya : bersamanya lagi memeluk anak-anak mereka.

Sesederhana itulah kebahagiaan sang istri - dan itu yang membuatnya kembali perih. Dalam diam, dalam sepi, dalam duka - ia lalu menaikkan syukur telah dikaruniai istri semulia itu.

Tangis Ahok, air mata Veronica, duka ketiga anak mereka adalah tangis, air mata dan duka ibu pertiwi yang sedang sakit ini. Negeri ini sakit parah, sebab dengan darah dingin menyakiti sepasang suami istri yang telah "mewakafkan" diri mereka untuknya.

By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI