Gorontalo Utara Menuju Poros Maritim Dunia

Gorontalo, 17/10 (Wajahbaru) - Jika jalan-jalan ke Provinsi Gorontalo, jangan lupa singgah sejenak di Kabupaten Gorontalo Utara. Sebuah daerah pemekaran yang letaknya tak jauh dari Bandara Djalaluddin Gorontalo di Kecamatan Isimu Kabupaten Gorontalo Utara.

Melalui perjalanan darat, Gorontalo Utara dapat ditempuh tidak lebih dari 30 menit. Wilayah ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Gorontalo, yang dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 11 tahun 2007, yang secara resmi menjadi kabupaten ke lima di Provinsi Gorontalo.

"Ibu kotanya dinamai Kwandang, kaya akan potensi kelautan dan perikanan, maka pemerintah daerah berkeinginan besar menjadikannya sebagai poros maritim dunia," ujar Bupati Indra Yasin, Selasa (17/10) di Gorontalo.

Menurut dia, cita-cita itu tidak muluk-muluk atau tidak terlalu berlebihan, sebab secara strategis, Gorontalo Utara memang berada di lintasan poros maritim dunia.

Melihat letak geografisnya, luas wilayah kabupaten ini mencapai 1.777,03 kilometer persegi. Panjang garis pantai mencapai 317,39 kilometer atau terpanjang di Provinsi Gorontalo.

Sedangkan luas laut dihitung dari 4 mil laut, mencapai 119.596,57 hektare dan dari 12 mil laut mencapai 276.745 hektare. Berderet memanjang dari timur hingga barat di antara sepanjang 11 kecamatan, sebanyak 52 pulau cantik, lengkap dengan 78 desa berada di wilayah pesisir pantai.

Di era pemerintahan Bupati pilihan rakyat pertama, periode 2007-2012 yaitu Rusli Habibie, kini menjabat Gubernur Gorontalo periode 2017-2022, jumlah desa di wilayah tersebut baru sebanyak 56 desa tersebar di 6 kecamatan.

Namun tahun 2010 berhasil dimekarkan menjadi 123 desa tersebar di 11 kecamatan dengan jumlah penduduk yang terus meningkat. Tahun 2013 sebanyak 108.324 jiwa, hingga tahun 2016 meningkat menjadi 111.824 sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) wilayah setempat.

Batas wilayah administrasinya yaitu, sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah.

Keunggulan Gorontalo Utara menuju poros maritim dunia, kata Bupati Indra Yasin. Sebab kabupaten ini memiliki letak strategis di kawasan Asia Pasifik yang tidak hanya berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi sehingga dikenal sebagai "Teras Depan Indonesia". Namun di bagian utara berhadapan langsung dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang, Korea, Taiwan, Fhilipina, Vietnam, Tiongkok dan Malaysia, serta beberapa negara lainnya.

Keunggulan ini menjadikan Gorontalo Utara berpotensi besar sebagai jalur transportasi laut antarnegara di kawasan Asia Selatan, serta sangat menunjang tol laut yang diprogramkan Presiden Joko Widodo.

Untuk mewujudkannya, kata Bupati Indra, infrastruktur penunjang pun dimiliki. Seperti Pelabuhan Anggrek yang melayani pengapalan peti kemas ekspor dan impor, dengan kapasitas labuh oleh kapal berbobot 20.000 ton.

Saat ini, panjang dermaga Pelabuhan Anggrek 303 meter dan lebar 31 meter, dengan kedalaman pasang terendah 10,5 meter dan pasang tertinggi 14 meter.

Dilengkapi dermaga kargo 153x12 meter dan dermaga peti kemas berdimensi 150x20 meter. "Pemerintah Kabupaten sangat berharap rencana pengembangan pelabuhan ini oleh pihak Kementerian Perhubungan RI, berdasarkan rencana induk pelabuhan 100 meter, bisa ditingkatkan sesuai usulan pemerintah kabupaten hingga bisa mencapai 300 meter," ujar Bupati yang mengatakan penambahan tersebut sangat rasional melihat tingginya aktivitas pengapalan setiap bulan.

Pelabuhan Anggrek juga memiliki kawasan dermaga pengapalan LPG yang masuk dalam kawasan Kecamatan Anggrek.

Keberadaan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kwandang berkapasitas daya tampung mencapai 3.000 Gross Ton (GT) kapal ikan atau sebanyak 100 unit kapal nelayan berbobot 30 GT, dengan luas dermaga 87x8 meter, dilengapi jembatan dermaga 20x6 meter sebanyak dua unit.

Pelabuhan ini tidak hanya berfungsi menampung produksi perikanan tangkap, namun berfungsi sebagai pelabuhan pelayaran dengan rute Kwandang menuju Pelabuhan Palele, Leok, Toli-toli, Salendeo, Mangkalihat, Tarakan, Nunukan, serta rute balik melalui Pelabuhan Tutun Labuhan Uki.

Infrastruktur penunjang lainnya di bidang kelautan dan perikanan, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gentuma, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan dermaga Gentuma, gedung TPI dan UPP, serta adanya tanggul pemecah ombak "break water" Gentuma.

Pemerintah Kabupaten berharap, cita-cita menjadi poros maritim dunia segera terwujud, baik melalui campur tangan pemerintah pusat dengan kucuran Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun peluang investasi yang dibuka seluas-luasnya meski hanya berlaku untuk investor yang benar-benar serius akan membenamkan modalnya untuk daerah ini.

Gorontalo Utara yang berada di perlintasan Sulawesi pun ditunjang infrastruktur jalan yang menghubungkan antarprovinsi dan kabupaten, yaitu jalan negara sepanjang 191.83 kilometer, jalan provinsi mencapai 34.75 kilometer dan jalan kabupaten 549.49 kilometer.

Membedah lintas Sulawesi di daerah ini melalui jalur transportasi darat arah Utara, menghubungkan lintas Sulawesi ke arah Provinsi Sulawesi Utara melewati kawasan blok plan Molingkapoto, ibu kota kabupaten, kawasan pelabuhan antarpulau, PPI Gentuma, Kabupaten Bolaang Mongondow, Manado, dan Bitung ke arah Pelabuhan Bitung.

Lintas Sulawesi jalur Selatan, menghubungkan Provinsi Sulawesi Tengah dan Provinsi Sulawesi Barat, Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara dengan melewati beberapa kabupaten.

Lintas Sulawesi jalur Barat menghubungkan Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Gorontalo melewati kawasan pelabuhan dan peti kemas, kawasan pergudangan, kawasan industri dan kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Anggrek serta kawasan pertahanan dan keamanan di wilayah ini.

Kabupaten ini pun masuk dalam guna ruang dan jaringan prasarana transportasi dalam wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo, Paguyaman dan Kwandang.

Dari segi infrastruktur kelistrikan berdasarkan data Dokumen Perencanaan Umum Ketenagalistrikan Nasional tahun 2015-2034, kabupaten ini berpotensi mengembangkan energi listrik.

Jika dibedah, total kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik yang ada di Provinsi Gorontalo hingga tahun 2014, sekitar 78 Mega Watt (MW). Terdiri dari pembangkit PLN sekitar 55 MW dan IPP sekitar 23 MW. Berdasarkan jenisnya, kapasitas terpasang pembangkit tersebut terdiri dari PLTU batu bara 21 MW, PLTD 54 MW dan PLTM 4 MW.

Konsumsi tenaga listrik untuk kelistrikan Provinsi Gorontalo, mencapai 370 GWh dengan komposisi konsumsi per sektor pemakai bagi rumah tangga sekitar 248 GWh (67,1 persen), bisnis 60 GWh (16,2 persen), industri 18 GWh (5 persen) dan publik sekitar 43 GWh (11,7 persen). Rasio elektrifikasi tahun 2014 sekitar 74,65 persen.

Proyeksi kebutuhan rasio elektrifikasi di Provinsi Gorontalo ditargetkan meningkat dari sekitar 79,11 persen tahun 2015 menjadi sekitar 100 persen pada tahun 2021 nanti.

Untuk mencapainya, diperlukan kenaikan jumlah rumah tangga berlistrik rata-rata sekitar 13.521 rumah tangga per tahun. Sementara kebutuhan tenaga listrik di Provinsi Gorontalo diproyeksikan akan tumbuh rata-rata 14,9 persen per tahun dalam periode 10 tahun ke depan atau sekitar 11,6 persen per tahun untuk periode 20 tahun ke depan.

Berdasarkan proyeksi tersebut, kebutuhan tenaga listrik yang diperkirakan sekitar 400 GWh pada tahun 2015 akan meningkat menjadi 1,395 GWh pada tahun 2024 dan 3,198 GWh tahun 2034.

Maka dalam periode 10 tahun ke depan, diperlukan tambahan kapasitas rata-rata sekitar 41 MW per tahun, untuk periode 20 tahun rata-rata sekitar 50 MW per tahun. Dengan pertambahan kapasitas tersebut, pasokan tenaga listrik di Provinsi Gorontalo akan meningkat dari 135 MW pada tahun 2015 menjadi sekitar 464 MW pada tahun 2024 dan 1,045 MW pada tahun 2034.

Berdasarkan dokumen RUPTL tahun 2013-2022 PLN, ada dua pembangkit listrik dikembangkan di daerah ini, yaitu PLTU Anggrek berkapasitas 2x25 MW yang saat ini dalam tahapan pengerjaan konstruksi dan pembangunan tahun 2019/2020.

Serta pembangunan PLTU 2x50 MW di Kecamatan Tomilito yang sementara memasuki tahap awal pembangunan. "Meski belum menikmati surplus listrik sepenuhnya, namun pemerintah daerah sejak tahun 2014 hingga 2016, berhasil menyambungkan 2.475 sambungan listrik gratis khusus rumah tangga sasaran atau kurang mampu, tersebar di 11 kecamatan," ujar Bupati Indra.

Untuk mewujudkan Gorontalo Utara sebagai poros maritim dunia di teras depan Indonesia, pemerintah daerah pun telah membagi kecamatannya menjadi beberapa kawasan strategis.

Kawasan Minapolitan di Kecamatan Kwandang, Anggrek, Monano, Sumalata Timur dan Sumalata. Kawasan Agropolitan di Kecamatan Sumalata, Biau dan Tolinggula. Kawasan ekonomi cepat tumbuh di Kecamatan Kwandang dan Anggrek.

Kawasan pengembangan strategis provinsi mencakup 11 kecamatan. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kecamatan Anggrek dan Tolinggula, serta Kawasan Terpadu Mandiri (KTM) di Kecamatan Anggrek, Monano, Sumalata Timur, Sumalata, Biau dan Tolinggula.

Didukung keberadaan kawasan pertahanan negara dengan adanya markas Kompi 713 TNI Angkatan Darat, Satuan Radar TNI Angkatan Udara, markas Brigif 212, pos pangkalan TNI Angkatan Laut, Satuan Polisi Air Udara (Polairud) dan Kepolisian Resor (polres), diyakini program pemerintah maupun program investasi sangat dijamin keamanan aktivitasnya.

Gorontalo Utara memiliki banyak keunggulan maka layak menjadi poros maritim dunia yang akan menunjang program pemerintah pusat mengangkat potensi kemaritiman yang dimiliki. Letak georafisnya di semenanjung pesisir pantai Laut Sulawesi yang berhadapan langsung dengan negara-negara Asia, menjadikannya sebagai daerah paling unggul dalam pengembangan potensi wisata bahari bertaraf internasional.

Satu-satunya kabupaten di Provinsi Gorontalo yang meemiliki pulau terbanyak mencapai 52 pulau berkarakteristik pantai pasir putih, serta cocok untuk pengembangan dan investasi di berbagai sektor makro ekonomi. (An/WB)

Gorontalo Utara