Koalisi PKS Gerindra Kian Tak Menentu

Bandung, (Tagar 13/11/2017) - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai gerindra Jawa Barat, Mulyadi, mengungkapkan, selama  proses koalisi PKS dan Gerindra sampai saat ini koalisi belum jelas arahnya ke mana, terutama setelah wacana PKS (Partai Keadilan Sejahtera)  akan bergabung ke koalisi Poros Baru.

“Sampai saat ini koalisi masih belum jelas arahnya mau kemana, dari pihak PKS tidak pernah ada itikad baik untuk berkomunikasi dengan DPD Jabar Gerindra,” ungkapnya, saat dihubungi Tagar di Bandung, Senin (13/11).

Lebih lanjut Mulyadi mengatakan, selain arah koalisi yang kian tak menentu. Koalisi PKS dan Gerindra ini pun dinilai hanya sepihak dimana PKS selalu memaksakan skenarionya sendiri, salah satunya paket bakal calon Demiz-Syaikhu yang tanpa berkomunikasi dengan DPD Jabar Gerindra.

“Kita perhatikan lagi kronologis atau proses koalisi PKS dan Gerindra yang akhirnya muncul pertanyaan (dibenak saya) ada apa dengan PKS (yang selalu memaksakan skenario sendiri)?.” jelasnya.

Pola bersikukuh PKS ini diawali ungkapnya, pada tanggal 16 Agustus 2017, di kediaman Ketua Dewan Suro PKS menyampaikan skenario-nya ke Ketua Umum Partai Gerindra yaitu, bahwa PKS mengusulkan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu. Dalam koalisi ini, Gerindra harus mengikuti skenario PKS.

“Gerindra mengalah pada waktu itu, dan sayalah yang harus menyampaikan pernyataan dukungan atas pasangan tersebut,” ungkapnya.

Sebulan kemudian, sebagai Ketua DPD Jabar Partai Gerindra yang setiap saat selalu ditanya progres atas koalisi dan kandidat oleh Ketua Umum Partai Gerindra, dengan catatan harus memperhatikan parameter yang menjadi pedoman Ketua Umum Gerindra untuk di Pilgub. Dimana Deddy Mizwar yang merupakan skenario PKS harus diusung Gerindra. Namun dalam prosesnya Demiz tidak mau mengikuti mekanisme seperti jadi kader, setuju atas fakta integritas, hingga persetujuan ongkos politik Gerindra agar dukungan Gerindra final diberikan ke Demiz.

“Maka, pernyataan Gerindra mendukung Demiz akhirnya dicabut karena tidak terpenuhinya parameter sebagaimana arahan Ketua Umum Partai Gerindra,” pungkasnya.

Sehingga sampai saat ini (setelah kunjungannya ke Gerindra) posisi Demiz masih tak kunjung jadi kader Partai Gerindra. Padahal itu parameter atau syarat utamanya, dan disisi lain PKS yang menghendaki skenario Demiz-Syaikhu inipun tidak ada sama sekali melakukan komunikasi atau sekedar membangun komunikasi dengan Gerindra terutama dalam menyusun strategi Pilgub Jabar yang harus dimenangkan bersama.

“Jadi, pertanyannya adalah ada apa dengan PKS?,” tutupnya. (Tagar/FIT)