Orang Sumut Jangan Bodoh

Siang itu, Nagabonar, Sang Jenderal, sedang duduk santai bersama Kopral Jono, pembantu setianya.

Tiba-tiba Kopral Jono, nyeletuk, "Jendral, apa Jendral memperhatikan suasana Sumut belakangan ini? Kan mau Pilkada tuh."

Nagabonar menerawang. Matanya tetap menatap langit. Kayaknya dia ngantuk. "Biasa aja," sahutnya.

"Lho, kok biasa aja sih? Itu suasana layaknya seperti sedang perang?" sahut Kopral Jono.

Masih angin-anginan menjawab, Nagabonar menyahuti, "emang Pilkada mana yang nggak kayak perang. Semua jual kecap. Kecapnya pun harus nomor satu. Kau macam tak tau aja. Jabatan itu nikmat"

"Jadi, Pilkada Sumut itu tidak jauh beda dengan Pilkada lain? Tapi di situ kan ada sosok Djarot, orang luar Sumut tuh," sambung Kopral Jono.

Tiba-tiba Nagabonar memperbaiki duduknya. Sambil menerawang, ia menatap Jono.

"Nah itu yang penting," kata dia. Matanya mulai mendelik, bak meneropong Jono. Sampai-sampai Jono sedikit ketakutan.

"Kamu tahu," Nagabonar memainkan telunjuknya, menunjuk ke hidung Jono, "Pilkada Sumut itu adalah upaya menghempang laju kelompok-kelompok yang ingin mengganti dasar negara negeri ini. Dan itu hanya bisa dengan mendatangkan Djarot."

"Apa sih yang sedang terjadi," kata Jono bingung dengan tatapan muka bodo.

"Ahhh, bodoh kali kau," sergah Nagabonar. Jono makin terkejut. Ia merasa pikirannya dibaca oleh Nagabonar.

"Begini", kata Nagabonar. "Sejak dibubarkan, kelompok-kelompok itu membangkitkan sel-sel tidurnya. Mereka memainkan kekuatan mereka yang selama ini memang telah pelan-pelan mencoba merebut pengaruh di partai politik. Mereka mendukung orang-orang yang akan berjuang untuk mereka. Dan karena itulah mereka mengusung orang yang akan memberikan ruang kepada mereka untuk menciptakan sebuah negara antar benua. Itu kontrak politiknya, itu janji politiknya."

"Lalu apa hubungannya dengan Djarot", tanya Jono.

"Bodoh!", tiba-tiba Nagabonar berdiri. "Bodoh kali kau", ia berkacak pinggang. "Kau tengok ya. Di negeri ini, parpol mana yang tetap merah-putih? Parpol mana yang mengakomodasi semua suku, agama dan kelompok? Parpol mana yang berjuang supaya sosok-sosok terbaik, yang bekerja bagi masyarakat memberikan bakti secara tulus dan luhur, tanpa melihat agamanya? Cuma PDI-P kan? Dan PDI-P melihat itu sifat nasionalisme itu pada diri Djarot. Dengar hei kau Jono. Djarot itu membangun Blitar tanpa melihat agama. Jakarta juga ia urus tanpa melihat agama. Lalu kenapa kau harus bertanya mengapa Djarot?"

Nagabonar makin melotot. Jono menunduk.

"Jono! Ku bilang kau ya. Kalau kau masih ingin negeri ini masih berdiri tegak atas dasar Pancasila, maka kau bilang sama orang Sumut itu untuk memilih Djarot. Jika tidak, aroma darah dan perkelahian akan mengalir dari Timur Tengah sana ke sini. Jono, kamu ingin negeri ini tak berdarah-darah?", Jenderal Nagabonar makin membesar suaranya.

"Tidak Jendral, saya paham kini," sahut Jono.

"Mari kita menikmati angin sepoi ini Jono. Kau tengok-lah Jono. Di mata kaum hitam itu, angin pun bisa dituduh beragama. Kau pikir mereka itu sehat? Jadi, coba dulu kau bilang sama kawan-kawan kau, sama dongan sahutamu, semualah. Suruh mereka dukung Djarot" (dari akun FB: Nagabonar)

Sumber: Viral di WAG