Pilkada Sumut Duel Djarot VS Edy, Siapa Menang?



Sepanjang 2017 ada beberapa tulisan saya menulis soal isu pemilihan kepala daerah Sumut.  Ada 8 kali saya berkunjung ke Medan sepanjang 2017. Setiap ke sana,  saya selalu menggali informasi situasi kamtibnas,  politik, ekonomi dan sosial kemasyarakatan. 

Dari percakapan itu saya merangkum ada yang salah dengan kepemimpinan Sumut. Terlebih 10 tahun di pimpin PKS,  Sumut berubah bentuk menjadi daerah paling korup.  Dua gubernurnya masuk penjara.  Tiga walikotanya idem dito.

Kepemimpinan korup ini membuat warga Sumut patah hati.  Orang Medan bahkan saat Pilwako Medan 2 tahun lalu hanya punya tingkat pemilih sebesar 27 persen.  Artinya dari total pemilik suara sekitar dua juta,  hanya sekitar 400ribu orang yang mau memilih. Sekitar 1.6 juta orang ogah mencoblos.

Hampir semua pemilih golput beralasan malas dan tidak ada gunanya mencoblos.  Lebih baik tidur atau jalan-jalan berlibur sama keluarga. 

Saya memancing dengan melempar pertanyaan sampai kapan keadaan berantakan ini berakhir kalau kalian tidak mau memulai perubahan? 

Mereka cuma nyengir.  Geleng-geleng kepala.  "Yang penting periuk nasiku tidak diganggu bang ", kata supir Becak yang mengantar saya.

Pada 27 Desember lalu,  saya dapat pesan dari Medan.  Pesan berkode A1 alias akurat bin terkonfirmasi. "Bang Djarot di Medan.  Bertemu tokoh adat dan masyarakat.  Djarot A1 jadi Cagub Sumut".

Saya tersenyum mendengarnya.  Insting politik saya langsung mencium langkah PDI Perjuangan mengirim Djarot Saiful Hidayat ke Sumut sangat jenius.  Jitu. 

Segera saya menulis sebuah artikel Duel Djarot vs Edy, Duel Kelas Berat.  Saya posting pagi. Benar saja.  Dalam tempo 6 jam,  tulisan itu direspon ribuan komen. Dishare ribuan akun.  Hingga hari ini sudah dilike 8808, dikomen 3295 dan dishare 3916 orang.

Tentu ini bukanlah pengamatan empiris yang ilmiah macam pendekatan survei.  Tapi saya membaca getaran lain dari biasanya.  Ibarat getaran perut bumi yang bergerak lain dari biasanya.  Ada getaran gempa dalam perut bumi Sumut.  Getaran kerinduan mendapatkan pemimpin ideal sekelas Ahok.

Saya membaca ribuan komentar di kolom komen dari ribuan orang itu.  Hampir semua memberikab pesan optimis. Ada kebangkitan baru dari warga Sumut.  Banyak di antara mereka rela menjadi relawan tanpa bayaran.

"Bang Birgaldo.. Saya baru kali ini mau ikut pilkada Sumut.  Sebelumnya golput.  Saya siap jadi relawan Bang. Siap turun tanpa bayaran.  Bahkan rela keluar uang", tulis Adi Hartono.

Mengapa Djarot mendapat respon positif luar biasa dari warga Sumut?

Djarot adalah anti tesis dari kepemimpinan Sumut selama satu dekade ini. Masuknya Djarot seperti membangkitkan energi tersimpan warga Sumut yang selama ini terkubur dalam wajah buram korupsi birokrat dan pelayanan publik yang memuakkan.

Djarot adalah harapan baru pemimpin yang bisa membawa perubahan.  Perubahan ini selalu ditunggu-tunggu warga Sumut yang selama ini bak anak ayam kehilangan induk.

Punya pemimpin,  tapi mengurus parit saja tidak becus.  Punya pemimpin,  tapi memperbaiki jalan saja tidak beres.  Belum lagi soal pelayanan kesehatan,  kamtibnas,  pendidikan dan infrastruktur.

Spirit relawan,  kebangkitan untuk mau berubah dari warga Sumut ini tentu menjadi modal besar buat Djarot bisa menang mengalahkan lawan beratnya Edy Rahmayadi.  Publik Sumut faham,  Letjen Edy sudah siap lahir batin menjadi Cagub Sumut.

Sudah jauh-jauh hari tim Edy bergerilya mensosialisasikan hasrat Edy menjadi Cagub Sumut.  Edy akan berpasangan dengan Musa Rajecshah,  pentolan Ormas Pemuda Pancasila. 

Gerindra,  PKS dan PAN diberitakan sudah memberi tiket cagub.  Dinamika berkembang,  Golkar yang tadinya mencalonkan incumbent Gubernur Tengku Ery berubah haluan.  Golkar berubah memberikan tiket cagub ke Edy.

Koalisi empat partai Gerindra,  PKS,  PAN, Golkar plus ormas PP ini tidak boleh dianggap enteng. Ini ibarat koalisi gemuk yang bergizi dan berenergi raksasa.  Jejaring dan logistik mereka kuat dan berpengaruh. 

Siapa yang tidak tahu betapa kuatnya jejaring Ormas PP di Sumut? Belum lagi pengaruh wibawa Pangkostrad Letjen Edy di mata FKPPI dan ormas pemuda lainnya. 

Saya memprediksi,  duel Djarot vs Edy bakal hiruk pikuk dan keras.  Ini duel raksasa.  PDI Perjuangan kali ini mengirimkan prajurit paling mumpuni dari padepokannya.  Hanya Djarot yang sanggup melawan Edy.  Begitu simulasi caturnya.

Kekuatan Djarot adalah karakternya. Karakter Djarotlah yang bisa menggerakkan warga Sumut yang dulu apatis,  skeptis dan pesimis dalam pilkada-pilkada sebelumnya.

Djarot dan timnya harus cerdas menangkap energi orang Sumut ini.  Jika Edy punya kekuatan jejaring ormas dan tokoh-tokoh masyarakat,  Djarot punya kekuatan personal yang membuat orang tidur bangun dan bangkit berjuang. Ditambah limpahan pendukung Ahok Djarot dari Sumut dan anak perantauan asal Sumut cukup banyak dan militan.

Duel Djarot vs Edy ini bakal seru dan menarik.  Duel seru dua jenderal penuh pengalaman  ini bikin jantungan.  Keduanya punya taktik strategi yang berlawanan.  Dan tentu saja,  duel ini akan penuh serangan propaganda SARA sebagai kelanjutan dari episode Pilkada DKI Jakarta.

Siapa Yang Bakal Menang? 
Mereka yang paling siap bertarung yang akan menang.  Djarot punya peluang lebih jika berhasil menghimpun energi berserakkan dari jutaan warga Sumut yang bosan dan jenuh dengan pemimpin biasa-biasa saja  alakadarnya model Sumut.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Kalian sharelah tulisan ini biar makin banyak relawan Djarot turun membantu perjuangan ini.. Oke kawan.. Mainkan terus..

Artikel terkait, Edy Rahmayadi Menghilang?