Sumut Bukan DKI Jakarta


Dengan membaca judulnya aja konco-konco awak orang Sumut udah taulah kemana kira2 arah tulisan ini. Orang Sumut terkenal rasional, terlatih berdialog dan kritikal, buktinya dari SUMUT banyak pengacara beken yang jago cuap cuap dan jago berdebat. Jadi kalau soal membahas negaraon apakah itu tentang sosial, hukum dan politik orang SUMUT tidak diragukan, awakpun heran. Coba kita perhatikan disetiap lapo/warung/cafe/resto di Mall yang ada di Medan isinya debat politik. 

Lapo/warung/cafe/resto adalah media yang pas untuk brain storming bagi orang SUMUT,  itu makanya masyarakat akar rumput di SUMUT pada umumnya melek politik, rasional dan kritikal, berbeda dengan daerah lainnya. Bahkan masyarakat DKI Jakarta sekalipun pada tataran akar rumput tidak serasional orang SUMUT ... ini menurut awak aja..

Modus pilkada (bukan pil KB) di DKI Jakarta kelihatannya mulai dicoba untuk diexercise dalam Pilgubsu. Beberapa elit politik di SUMUT mulai menghubungkan politik dan agama dan mendikotomi putra daerah dengan putra impor (istilah baru). Massam mana pulak kok ada putra impor ...

Mari kita lihat fakta berikut ini apakah survey dibawah ini sesuai dengan kondisi yg terjadi di Jakarta. Penilaian dari the Program for the International Assessment of Adult Competencies, sebuah tes kompentensi sukarela untuk orang dewasa  berusia 16 tahun ke atas menunjukkan rendahnya tingkat literasi dan daya baca warga Jakarta. Tercatat hanya 1% warga Jakarta yang memiliki tingkat literasi memadai (Level 4 dan 5) artinya bahwa orang yang bersangkutan bisa mengsinergikan, menafsirkan, menganalisis, dan mengsintesis informasi, fakta, dan data dari teks-teks cukup panjang.

Selanjutnya, hanya 5,4% warga Jakarta yang tingkat literasinya pada Level 3, artinya hanya 5,4% saja warga Jakarta yang mampu menemukan saja,  tidak bisa menganalisis apalagi mengsintesis dan menganalisis informasi teks-teks panjang.

Sisanya (lebih dari 90%), masyarakat Jakarta hanya bisa menangkap dan memahami informasi lewat pesan dan tulisan pendek seperti pesan pendek SMS atau WhatsApp, postingan singkat di Twitter, Facebook, dll.

Oleh karena itu wajar sekali kenapa warga Jakarta gampang sekali "didoboli" dan "dibodohi" oleh para makelar politik, pedagang ekonomi, dan tengkulak agama. Cobalah kita perhatikan hampir tidak ada tokoh agama yang menyerukan tentang kewajiban membaca dan meningkatkan literasi. Para tokoh agama membisu seribu bahasa tentang fenomena "kebahlulan"  umatnya.

Pemilih yang tolol akan melahirkan pemimpin yang bodoh. Pilkada SUMUT harus melahirkan pemimpin yang berkualitas. Awak percaya warga SUMUT umumnya lebih rasional tidak mudah diadu domba karena di Medan tak ada domba,  yang ada dan banyak adalah pinahan lobu alias B.2 dan B.1... alias saksang dan BPK yang enak itulah yang ada di Medan.... Mantabkan konco-konco....

#AnakMedan
Sragen 21/01/2018