Kepsek SMP Negeri Dipecat Sebut Bom Surabaya Rekayasa

Pontianak, (WajahBaru 18/5/2018) – Perempuan berinisial FSA berusia 37 tahun ini seorang pegawai negeri sipil dengan jabatan kepala sekolah di sebuah SMP Negeri di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Ia dipecat sementara dari jabatannya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kayong Utara, setelah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan oleh Polda Kalimantan Barat, rabu (16/5) terkait tulisannya di Facebook yang menyebut serangan teror bom di tiga gereja di Surabaya adalah rekayasa.

Perbuatan FSA itu dijerat Pasal 45A Ayat 2 jo Pasal 28 Ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Sebelumnya di Banda Aceh seorang ibu rumah tangga berinisial WF diamankan Ditreskrimsus Polda Aceh, Senin (14/5) karena statusnya di Facebook memberikan dukungan pada teroris di Surabaya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tagar, WF kelahiran Surabaya tahun 1981, beralamat di Desa Lam Ara, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Misbahul Munauwar saat dikonfirmasi Selasa (15/5) mengatakan pada tanggal 13 Mei 2018 sekira pukul 09.00 Wib, WF membagikan postingan terkait rusuhnya rutan Mako Brimob atas postingan milik orang lain.

Kemudian di dalam postingannya tersebut terdapat komentar dari teman Facebook terduga inisial LFY dengan kata-kata, "Iya, Mbak, ini barusan ada bom di Gereja Santa Maria, Ngagel, Surabaya."
"Selanjutnya terduga pelaku SARA membalas komentar tersebut, "Ya say, memang halal darah orang kafir, say," Misbahul menirukan kata-kata tersebut.

Misbahul menyebutkan, pasal yang dipersangkakan kepada pelaku meliputi Pasal 45A ayat 2 Jo Pasal 28 ayat 2 sesuai dengan UU RI No. 19/2016 perubahan atas UU RI No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Mahfud MD Dewan  Pengarah Badan Pembinaan Idiologi Pancasila mengecam pihak-pihak, netizen atau siapa pun yang menyebut teror adalah rekayasa.

"Sama biadabnya dengan teroris, mereka yang mengatakan teror-teror yang terjadi di Depok, Surabaya, dan Sidoarjo merupakan rekayasa aparat. Mereka tak berempati sama sekali, berhati serigala," tulis Mahfud di akun Twitter pribadinya, Senin (14/5) pagi. (AF)


Akun di media sosial milik Fitri Septiani Alhinduan