Masa Depan Anak Teroris

https://nasional.tagar.id/tag/teroris

Jakarta, (WajahBaru 16/5/2018) –  Fenomena baru dalam serangan teror di Indonesia adalah melibatkan anak kandung, termasuk anak yang masih kecil. Seperti dalam serangan teror bom di gereja di Surabaya, ada pelibatan dua anak perempuan yang usianya di bawah 10 tahun, keduanya meninggal bersama ibunya yang meledakkan diri dengan bom. 

Seperti serangan teror bom bunuh diri di tiga gereja itu yang dilakukan satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan empat anaknya, dalam serangan teror bom di Polrestabes Surabaya juga melibatkan satu keluarga. Yang membedakan, ada satu anak perempuan selamat ketika bom diledakkan di Polrestabes Surabaya. 

Ia adalah Aisyah Putri akrab disapa Ais, usia 8 tahun. Saat bom meledak ia terpental setinggi tiga meter kemudian terbanting ke tanah, namun ia masih bisa bangkit berdiri. Ais kemudian dibopong AKBP Roni Faisal yang pada pagi itu sedang berada dekat lokasi kejadian, dibawa menjauh dari ledakan. Kini Aisyah masih dirawat di RS Bhayangkara Surabaya. 

Sebelumnya juga ada tiga anak teroris yang selamat dari ledakan bom di rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Mereka adalah Ainur Rahman (15),  Faisa Putri (11), dan Garida Huda Akbar (10). Ketiganya merupakan anak dari Anton Febrianto (47) yang ditembak mati setelah bom rakitannya meledak di kamarnya di Blok B lantai 5 nomor 2 rusun Wonocolo, Sidoarjo, dan menewaskan istrinya Puspitasari (47) serta anak pertamanya Aulia Rahman (17).

Dua dari tiga anak teroris yang selamat dalam ledakan bom rusun Wonocolo itu juga sedang menjalani perawatan di RS Bhayangkara Surabaya, sementara seorang anak yang tidak terluka juga berada di rumah sakit tersebut, menemani dua saudaranya.

Seto Mulyadi akrab disapa Kak Seto, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mengatakan bahwa anak pelaku teror bom adalah korban, tidak bisa disalahkan, tidak bisa dipidana, anak-anak ini harus diselamatkan masa depannya.

Kak Seto mengatakan dalam catatan Komnas Perlindungan Anak, keterlibatan perempuan dan anak dalam kasus terorisme adalah baru pertama ini di Indonesia. 

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menyebut dan menempatkan anak-anak ini sebagai pelaku langsung teror bom, karena mereka mendapat stimulasi negatif dari lingkungan maupun orangtuanya.
"Pandangan keliru kalau anak-anak ini disebut pelaku dalam kasus terorisme ini. Mereka adalah korban, atau anak-anak yang dikorbankan oleh orangtuanya," ujarnya.

Kasus teror bom ini, sebut Kak Seto, sangat merugikan perkembangan jiwa anak. Anak-anak ini harus mendapatkan perlindungan. Mereka ditemukan sebagai anak yatim setelah orangtuanya meninggal akibat aksi pemboman. 

"Anak anak ini sangat berpotensi mendapatkan bullying (perundungan). Mohon untuk tetap mendapatkan perlindungan, anak-anak ini harus diluruskan kembali dari pengaruh-pengaruh negatif. Supaya mereka dapat lepas dari pengaruh atau doktrin negatif yang ditanamkan oleh orangtua maupun lingkungan," tutur Kak Seto. (AF)