Blunder Prabowo


Oleh: Jarot Doso*

Sebetulnya kesalahan pencitraan berbasis agama terhadap Prabowo tidak melulu bersumber dari ulah para pendukungnya.

Faktor sosok Prabowo sendiri sedikit banyak ikut berpengaruh, sehingga akhirnya para pendukungnya mengaitkan nama dia dengan identifikasi sebagai tokoh yang (seolah-olah) agamis.

Pertama, karena minimnya prestasi Prabowo yang bisa digali untuk ditawarkan kepada publik. Ironisnya, prestasi moncer Prabowo di dunia kemiliteran pun redup, akibat dipecatnya dia dari dinas militer --lantaran dugaan keterlibatan dalam kasus penculikan aktivis pro demokrasi maupun percobaan kudeta terhadap pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Akibat minimnya prestasi Prabowo yang bisa dijual ke publik ini, tim sukses dan para pendukungnya sejak Pilpres 2014 lebih banyak melakukan kampanye negatif bahkan fitnah (black campaign) terhadap Jokowi. Isu-isu yang menuduh Jokowi anti Islam atau terlibat PKI pun diglontorkan, seraya menyebarkan propaganda bodong bahwa Prabowo sosok pemimpin umat.

Pertanyaannya, pemimpin umat yang mana? Punyakah Prabowo rekam jejak dalam kegiatan atau kepengurusan ormas-ormas Islam, di luar kelompok pragmatis pemburu pamrih seperti FPI? Jawabannya: tidak ada! Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang yang berideologi Islam modernis (Masyumi), mengkonfirmasi hal itu.

Yusril meragukan citra yang selama ini dibangun Prabowo-Sandi, yang seolah banyak berjasa untuk Islam. Menurut Yusril, selama ia mengenal dan bergaul dengan keduanya, hampir tak ada rekam jejak yang mengindikasikan ke arah itu.

Kedua, Prabowo mulai meniupkan politik identitas Islam ketika ia mengkonsolidasikan para perwira “hijau” untuk menandingi dominasi Menhankam/Pangab Jenderal Benny Moerdani, menjelang akhir kekuasaan Soeharto.

Lantaran Benny tidak setuju Soeharto kembali menjadi presiden RI untuk kesekian kalinya, ia pun dikategorikan sebagai “musuh Islam” oleh Soeharto dan kroni, antara lain melalui Prabowo. Agama Benny yang Katolik digoreng untuk menimbulkan perasaan terancam di kalangan Islam.

Penolakan Prabowo terhadap pengangkatan perwira tinggi beragama Hindu sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus penggantinya, kala ia naik posisi sebagai Pangkostrad, mengindikasikan hal itu.

“Saya tidak terpilih menjadi Danjen Kopassus pada 1998 karena alasan sangat tidak profesional. Karena saya beragama Hindu,” tutur Mayor Jenderal TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma yang kemudian menjadi Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) periode 2011-2016 kepada Merdekacom (23/3/2012).

Maka, sejumlah perwira tinggi “hijau” pun menjadi lingkaran dekat Prabowo dan Soeharto. Seperti Jenderal Hartono, Mayjen Zacky Makarim, Mayjen Kivlan Zein, dan Mayjen Muchdi Pr. Dari sini dimulailah kedekatan kelompok perwira “hijau” Prabowo cs dengan kelompok Islam kanan seperti FPI dan FUI. Kelompok perwira tinggi TNI yang mungkin pernah disebut oleh mendiang Gus Dur sebagai “Naga Hijau”. Tentara yang mestinya bervisi merah-putih namun justru mempermainkan politik identitas dan membentuk klik “tentara hijau” berhadapan dengan “tentara merah putih” pro Benny Moerdani.

Mungkin Hartono, Zacky Makarim, Kivlan dan Muchdi, ditilik dari latar belakang keluarganya, masih bisa disebut tentara santri atau Islam taat. Tetapi tidak demikian dengan Prabowo. Prabowo tak punya latar belakang santri. Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo, lebih sebagai elite Jawa yang sudah terbaratkan (westernized) ketimbang Muslim taat. Bahkan Dora Marie Sigar (ibu Prabowo) dan Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo, adalah pemeluk Kristen. Prabowo disebut-sebut masuk Islam karena menjadi menantu Soeharto.

Akan tetapi, Prabowo toh memilih untuk memainkan “kartu politik” Islam saat masih perwira aktif TNI AD. Dan ternyata, hal itu terus berlanjut ketika dia maju sebagai capres tahun 2014 dan 2108.

Keputusannya menggandeng PKS dan FPI dkk dalam peruntungan politik Pilpres bisa dilihat sebagai realisasi pilihan politik identitas Islamnya. Meski secara ideologis kendaraan politik Prabowo sendiri, yakni Partai Gerindra, sebetulnya tidak sejalan dengan PKS dan FPI. Gerindra berideologi nasionalis sekuler mirip PDI Perjuangan, sementara PKS dan FPI berideologi Islam kanan.

Pilihan politik SARA ala Prabowo inilah yang lalu menjadi “jebakan batman” bagi dirinya sendiri: ia dicitrakan sebagai capres atau tokoh pejuang Islam oleh para pemujanya, padahal ia bukanlah sosok santri sejati seperti yang dibayangkan para pengikutnya.

“Jebakan batman” yang akhirnya justru mempermalukan Prabowo, dengan blunder yang membukakan mata publik, bahwa memang Prabowo bukanlah tokoh Islam dan tidak kompeten dalam masalah keislaman. (*)

*Penulis menyelesaikan S1 dan S2 dengan spesialisasi politik Islam di Fisipol UGM Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai wartawan Republika dan Tempo serta Tenaga Ahli DPR RI. Kini bekerja sebagai tim redaksi Jokowi App, aplikasi resmi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin.