Dibalik Stagnasi Prabowo

Prabowo Subianto
Prabowo Subianto

Di luar dugaan, sejak Oktober 2018, elektabilitas Prabowo-Sandi malah stagnan. Reuni 212 sebagai momentum politik tidak memberi efek elektoral yang signifikan. Ada tiga penjelasan mengapa stagnasi ini dialami pasangan Prabowo-Sandi.

(1) Pemilih Lakukan Seleksi
Pemilih pertama-tama mengevaluasi kinerja petahana. Jika tak puas, ia akan memilih penantang sebagai hukuman kepada petahana.

Tapi, pemilih ternyata tetap melakukan seleksi. Ketika ia merasa penantang tak lebih baik dan atau tidak bisa diharapkan, ia akhirnya tetap memilih petahana dan atau golput.

Inilah situasi yang dihadapi Prabowo-Sandi. Elektabilitasnya gagal melesat karena dinilai tak lebih baik dari Jokowi. Pemilih kehilangan insentif untuk memilih Prabowo-Sandi. Semakin banyak pemilih yang berpendapat seperti ini, semakin stagnan elektabilitas Prabowo-Sandi.

(2) Panggung Belakangnya Tersibak
Pada 2014, Prabowo masih punya greget. Banyak pemilih Islamis melihat Prabowo sebagai simbol kebangkitan umat. Tapi, imajanisasi ini berantakan karena satu demi satu fakta terungkap. Meski berbagai dalih diwacanakan, tapi pemilih tipe ini terlanjur merasa ditipu. Semakin banyak fakta-fakta tentang kepribadian Prabowo (dan juga Sandi) yang terungkap, semakin stagnan elektabilitas pasangan ini.

(3) Terlalu Oportunis
Dorongan bersikap oportunis demi meraup suara terkadang membuat kandidat tak lagi hirau dengan batas kewajaran menjalankan strategi ini. Ia rela plin-plan, ia rangkul semua kelompok meski jelas tidak sejalan dengan posisi politik yang ia suarakan sendiri.

Inilah juga yang terjadi pada Prabowo-Sandi. Pemilih loyalisnya mungkin tutup mata, tapi yang masih menimbang-nimbang malah jadi takut sendiri. Bagi mereka, Prabowo-Sandi bukan opsi yang layak dipertimbangkan untuk dipilih pada 17 April 2019 mendatang.

Jakarta, ... Februari 2019